Book Review: Catatan Ichiyo, Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang – Rei Kimura

“Kau akan menjadi terkenal, mungkin wajahmu akan muncul dalam uang kertas jepang suatu hari nanti, Ichiyo, dan kita tak akan miskin lagi.” Ini lah yang dikatakan Kuniko satu-satunya adik Ichiyo yang selalu ada dikala sulit dan senang 300 tahun yang lalu.

Buku yang berisikan biografi Natsuko Haguchi atau yang juga di kenal Ichiyo menceritakan tentang perempuan miskin di lembar uang Jepang 5000 yen.

Ichiyo adalah Penulis novel wanita menempuh banyak kesulitan pada kala hidupnya. Kesulitan dan kemiskinan tidak membuat Ichiyo menyerah dalam menggapai mimpinya.

“Terus lah bermimpi, paling tidak itulah yang bisa kita lakukan terus-menerus, karena mimpi itu gratis.” Perkataan Ichiyo yang terus menjadi penyemangat masyarakat jepang untuk terus bermimpi.

Kesedihan dan kesengsaraan tidak membuatnya menyerah dalam mempertahankan mimpinya. Ichiyo yang kehilangan Ayah dan Kakak laki-laki membuatnya menjadi pribadi yang kuat.

Di masa kecilnya Ichiyo tidak memiliki teman karena dia lebih suka menyendiri dan membaca buku. Semua buku yang di dapatkannya berasal dari pemberian Ayahnya. Ayahnya yang melihat bakat Ichiyo dalam sastra menaruh harapan besar.

Buku ini menceritakan bagaimana sifat Ichiyo muda yang berbeda dengan orang-orang pada umur sebayanya.

Ketika Ayah dan kakak laki-lakinya meninggal, Keluarga Higuchi hanya tersisakan tiga perempuan yaitu ibunya, kuniko adiknya dan Ichiyo sendiri yang harus tetap hidup. Takdir membuat Ichiyo sebagai anak tertua memegang tanggung jawab yang besar. Sebenarnya masih ada satu kakak laki-lakinya yang masih hidup tapi dia tidak memperdulikan keluarganya dan meninggalkan mereka.

Seperti yang sudah diketahui bahwa wanita pada zaman dulu banyak diremehkan. Ichiyo ketika itu sangat kesulitan untuk belajar dan mendapatkan pendidikan hanya karena dia seorang perempuan. Tetapi, Ayahnya Noriyoshi Higuchi terus memberikannya buku untuk belajar walaupun, Ibu Ichiyo tidak terlalu mendukungnya.

Banyak yang bisa saya ceritakan, seperti perjuangan Ichiyo yang pindah rumah dan tinggal di rumah dekat Kawasan ‘hiburan malam’. Selama tinggal disini Ichiyo tidak bisa menulis dengan fokus karena suasana yang tidak menyenangkan ditambah Ichiyo yang harus membantu Ibu dan adiknya berdagang. Tapi, dari sini lah dia menjadi pribadi yang berbeda dan menerbitkan buku yang sangat terkenal di kala itu yaitu Child’s play.

Cobaan terus berdatangan walaupun Ichiyo telah sukses menjadi penulis terkenal. Gimana tidak, Beberapa bulan kemudian penyakit Ichiyo menjadi parah.

Tuberkulosis yang menyebabkan kematian Ayah dan kakaknya juga menyerang Ichiyo. Walaupun penyakit tersebut menusuknya dari dalam tapi Ichiyo masih semangat hingga dapat menyelesaikan buku terakhirnya ‘Warekara’ yang artinya separate ways.

‘Jalan perpisahan’ mengartikan bahwa tahun ini adalah perpisahannya dengan dunia dan orang-orang tercintanya, Ichiyo meninggal di umur 24 tahun. Umur yang masih muda.

Kegigihan, Semangat dan kerja keras tidak bisa dibayangkan besarnya. Seorang Anak yang pemalu, berperawakan pendek, selalu menunduk dan sulit berkomunikasi dengan orang lain memiliki api besar dalam dirinya.

Seperti yang di tuliskan Rei kimura dalam buku ini. “sangatlah ironis bahwa dalam hidupnya, Ichiyo Higuchi sangat miskin dan tak pernah memiliki cukup uang bahkan untuk makan dengan layak sekali pun, menyebabkan kematiannya yang dini karena kekurangan gizi dan tuberkolosis. Namun dalam kematian, wajahnya melanglang buana jauh keluar tempat persemayamannya untuk diabadikan di dalam benda yang telah menyusahkannya sepanjang hidup, uang!. Ia ada di mana-mana, menatap tenang kepada dunia yang membentang luas yang sekarang ia jelajahi dalam kertas 5000 yen Jepang sebagai penghormatan baginya. Ichiyo Higuchi menjadi kaya pada akhirnya, diluar mimpi terliarnya sekalipun!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *