Book Review: Girl On the Train-Paula Hawkins, ketika semua berjalan menjadi buruk

Alur tegas, suasana mencekam. Seperti kereta api buku THE GIRL ON THE TRAIN memberikan kesan ketegangan yang cepat merambat dan membuat bulu kuduk berdiri.

Awal cerita, sudut pandang berkesan tenang dan damai.Rachel yang terlihat seperti perempuan baik yang mendabakan sebuah kisah roman ketika melihat keluar jendela kereta api.

Di balik jendela Rachel melihat sepasang suami istri yang sangat romantis dan bahagia. Mereka mengingatkan Rachel pada kenangan masa lalunya. Ketika hidupnya penuh dengan cinta. Rachel memberikan mereka nama masing-masing selagi membayangkan kehidupan yang mereka jalanin. Sang suami Rachel sebut Jason, sedangkan, sang istri Jess.

Perjalanan pulang menggunakan kereta London membuatnya terus melirik ke arah rumah sepasang suami istri tersebut, hingga pada suatu saat terjadi permasalahan. Rachel melihat mereka bertengkar meributkan sesuatu. Dari situlah berbagai tragedy muncul.

Jess yang menghilang, Jason yang panik karena istrinya hilang, dan Rachel yang dituduh dan juga dianggap stress karena mabuk-mabukan setiap hari.

Megan yang juga adalah jess memberikan sudut pandangnya juga. Perasaanya dam perjalanannya sebelum menghilang. Megan yang Rachel pikir adalah istri yang sempurna dan kehidupan yang bahagia, ternyata berbeda.

Disisi lain Anna yaitu istri dari mantan suami Rachel menceritakan keburukan Rachel yang terus menguntit kehidupannya. Anna terus terganggu akan perilalku Rachel. Dia membenci Rachel.

Paula Hawkins memiliki pemikiran yang luarbiasa dalam bercerita. Tiga sudut pandang berbeda yang membuat pembaca berpikir waktu dan tempat pada setiap kejadian.

Pembaca dibawa untuk berpikir dan menebak apa yang terjadi terhadap jess atau megan. Rachel yang mengkonsumsi Alcohol menyebabkan permasalahan menjadi rumit.

Endingnya sangat menegangkan. Tiga perempuan yang terikat.