PESONA BUKITTINGGI PADA MALAM HARI

Bukkittinggi di kenal sebagai ibukota Indonesia setelah kemerdekaan 1945. Kota kelahiran bung hatta ini tidak kalah serunya untuk di kunjungi jika berada di sumatera.

Bukittinggi memiliki monument tersendiri yang berada di tengah kota. Jam gadang sebutan bahasa minangkabau yang juga berarti jam besar adalah landmark atau penanda kota di bukittinggi.

Jam ini memiliki tinggi sekitar 26 meter dengan diameter 80 centimeter dan ditopang dasar 13×4 meter.

Ceritannya jam ini di berikan oleh ratu belanda kepada sekertaris kota dan memilki kembaran yaitu jam besar lainnya yang ada di kota London inggris, Big Ben.

Jam gadang memiliki banyak cerita dari pertama dibangun hingga setelah kemerdekaan. Misal, setelah kemerdekaan banyak penjual yang berpindah tempat di bawah jam gadang yang katanya membawa keuntungan. Selain itu, angka romawi pada jam gadang yang seharusnnya bertulissan ‘IV’ tapi di jam gadang tertulis ‘IIII’. Entahlah apa artinya.

Pesona jam gadang bukan hanya dari sejarah dan cerita rakyatnya. Bisa dibilang jam gadang pada era modern ini sudah di tambah fungsinya.

Pada malam hari, light show di jam gadang sama seperti monas. Perubahan warna dinding dengan lampu lampion menjadi tempat untuk menarik pengunjung. Bukittinggi yang biasanya sepi pada malam hari menjadi lebih ramai. Ditambah banyak andong atau tukang penarik kuda di sekitarnya. Buat yang mau keliling kota dengan kuda dimalam hari.

Banyak warga dan orang luar yang berfoto-foto di depan jam gadang sekarang ini. kafe-kafe juga banyak di sekitar jam gadang sambil melihat pemandangan lampu lampion.

Pada malam hari jika ke bukittinggi jangan coba-coba untuk tidur cepat. Lihat pemandangan pusat kota yang di hias dengan cahaya dan kuda-kuda disekitar jam gadang.